TUGAS 3
he is bad child he live with her parent,but his parent doesn’t care to him one day he goes to mall with her father and he bring a smoke,beside that he imitate father attitude is bad the child so that a carachter is good but actually that is wrong beside he is smoker and bad attitude he doesn’t respect to her parent.
Kamis, 03 Mei 2012
TUGAS 1
TUGAS 1
British
|
American
|
Colour
|
Color
|
Labour
|
Labor
|
Metre
|
Meter
|
Catalogue
|
Catalog
|
Theatre
|
Theater
|
Centre
|
Center
|
Apoligise
|
Apologize
|
Defence
|
Defense
|
British
|
American
|
Football
|
Soccer
|
Biscuit
|
Cookie
|
Toilet
|
Rest
room
|
Shop
|
Store
|
Chemist
|
Drugstore
|
Pants
|
Trousers
|
Torch
|
Flashlight
|
Underground
|
Subway
|
Groundfloor
(lt.dasar )
|
Firstfloor
(lt.dasar)
|
Sweets
|
Candy
|
Rubbish
bin
|
Trash
can
|
Rabu, 11 April 2012
TUGAS 2
Verb
|
Noun
|
Adverb
|
Adjective
|
blacken
|
blackness
|
blackable
|
black
|
classify
|
class
|
classable
|
classfull
|
Invest
|
Investor
|
investly
|
investable
|
beautify
|
beauty
|
beautiable
|
beautifully
|
A.
CENTENE OF
PROTECT
1.
I will blacken my hair
2.
You picture is blackness so it
is bad
3.
I love
blackable
4.
Your heart is black
B.
Centene of invest
1.
I invest a gold
2.
The investor will build a new
building
3.
Bank is a good places to investly
4.
It is very investable with that
Jumat, 30 Desember 2011
Tulisan 7
KEGELISAHAN
Muhammad naufal 14211909 1EA17
Kegelisahan
adalah perasaan yang terjadi jika sesuatu yang kita rasakan dalam keadaan yang kita tidak inginkan.kegilsahaan
datang karena sesuatu terjadi yang kita tidak inginkan datang kepada kita
secara tiba tiba.kegisahan dapat dihilangkan dengan cara berpikir selalu
positif jika kita berpikir positif pasti akan mendakatang kan hal hal yang baik
dan sebaliknya.
Tulisan 8
HARAPAN
muhammad naufal 14211909 1EA17
Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan tetapi masih belum
terwujud .Harapan saya untuk kedepan
bisa menjadi orang yang berilmu yang berguna untuk orang banyak bukan hanya itu saja melainkan berjasa untuk kedua orang tua dan
berguna bagi nusa dan bangsa.harapan bukan hanya kita sendiri yang mempunyai
tapi setiap orang mempunyai harapan .harapan bisa kita buktikan jika kita
sungguh untuk menggapai harapan dengan adanya usaha serta doa harapan yang kita
ingin akan tercapai.tidak mudah mencapai harapan yang kita inginkan banyak proses proses yang harus
kita lewati dalam proses itu lah kita memerlukan
kesabaran yang dalam arti kita harus bersabar dalam menggapai harapan
kita.kerja keras juga di perlukan untuk menggapai harapan yang kita
inginkan dengan bekerja keras kita dapat
membuktikan bahwa harapan yang kita inginkan dapat kita inginkan.
Rabu, 28 Desember 2011
Catatan Kuliah Dasar Pemasaran 6
Daur Hidup
Produk
Setiap produk biasanya mengalami
kelahiran dan kematian baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu
produk bisa saja pada suatu waktu sangat disukai banyak orang dan laku keras,
namun di lain waktu produk itu tidak laku lagi dijual. Jadi pengertian daur
hidup produk yaitu tahapan suatu produk mulai dari lahir, tumbuh, dewasa dan
mati.
Setiap produk memiliki masa daur
hidup produk yang berbeda. Produk elektronik biasanya memiliki rentang waktu
yang sempit alias cepat mati sedangkan produk seperti makanan dapat bertahan
lebih lama. Contohnya handphone nokia tipe tertentu akan dibatasi jumlah yang
dibuat dalam beberapa tahun, lalu membuat tipe hp lainnya. Minuman aqua sudah
puluhan tahun memimpin pasar dan masih berada dalam kondisi antara pertumbuhan
dengan dewasa.
Langkah / Tahap Dalam Daur Hidup
Produk (Product Life Cycle)
1. Tahap Perkenalan / Introduction
Pada tahap ini produk baru lahir dan
belum ada target konsumen yang tahu sehingga dibutuhkan pengenalan produk
dengan berbagai cara kepada target pasar dengan berbagai cara.
2. Tahap Pertumbuhan / Growth
Ketika berada pada tahap tumbuh,
konsumen mulai mengenal produk yang perusahaan buat dengan jumlah penjualan dan
laba yang meningkat pesat dibarengi dengan promosi yang kuat. Akan semakin
banyak penjual dan distributor yang turut terlibat untuk ikut mengambil
keuntungan dari besarnya animo permintaan pasar.
3. Tahap Kedewasaan / Maturity
Di tahap dewasa produk perusahaan
mengalami titik jenuh dengan ditandai dengan tidak bertambahnya konsumen yang
ada sehingga angka penjualan tetap di titik tertentu dan jumlah keuntungan yang
menurun serta penjualan cenderung akan turun jika tidak dibarengi dengan
melakukan strategi untuk menarik perhatian konsumen dan para pedagang. Karena
sudah banyak pesaing, para pedagang mulai meninggalkan persaingan dan yang baru
tidak akan banyak terlibat karena jumlah konsumen yang tetap dan cenderung
turun.
4. Tahap Penurunan / Decline
Pada kondisi decline produk
perusahaan mulai ditinggalkan konsumen untuk beralih ke produk lain sehingga
jumlah penjualan dan keuntungan yang diperoleh produsen dan pedagang akan
menurun drastis atau perlahan tapi pasti dan akhirnya mati.
----
Beberapa teknik atau cara untuk
memperpanjang daur hidup produk :
1. Meningkatkan Konsumsi dengan cara
membujuk konsumen untuk meningkatkan penggunaan produknya dengan berbagai
manfaat yang ditawarkan. Contoh : untuk hasil maksimal gunakan pasta gigi
sepanjang bulu sikat, apa pun makannya minumnya teh botol sosro, memakai sampo
setiap hari membuat rambut sehat, dsb.
2. Mencari fungsi lain produk dari
biasanya. Contoh seperti teh tidak hanya untuk ngeteh saja tapi dapat dibuat
kreasi menjadi minuman yang lebih kompleks.
3. Memodifikasi produk agar tampil
baru dan segar baik dari segi isi, kemasan, takaran, ukuran, manfaat, dan lain
sebagainya. Contoh misal seperti produk unilever yang biasanya terus menerus
mengganti isi pepsodent beserta kemasannya agar selalu tampil baru dan segar.
4. Mencari target konsumen baru
Jika pasar yang sudah ada sudah tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan penjualan maka dapat ditempuh jalan dengan cara membidik segmen pasar baru untuk dibujuk untuk menjadi pelanggan. Contoh : rokok sampoerna hijau yang tadinya membidik golongan menengah ke bawah kini mulai membidik golongan menengah ke atas untuk memperluas segmen pasar.
Jika pasar yang sudah ada sudah tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan penjualan maka dapat ditempuh jalan dengan cara membidik segmen pasar baru untuk dibujuk untuk menjadi pelanggan. Contoh : rokok sampoerna hijau yang tadinya membidik golongan menengah ke bawah kini mulai membidik golongan menengah ke atas untuk memperluas segmen pasar.
Catatan kuliah dasar pemasaran 7
Strategi penetapan Harga
Strategi Penetapan Harga
Strategi penetapan harga menjadikan
tantangan yang semakin meningkat untuk banyak perusahaan, karena deregulasi,
informasi dari pembeli, persaingan global yang ketat, pertumbuhan pasar yang
lambat dan peluang perusahaan untuk meningkatkan posisi pasarnya. Harga
berdampak pada kinerja keuangan dan berpengaruh penting pada nilai penempatan
posisi merek di benak pelanggan. Harga juga memungkinkan menjadi sebuah
perwakilan dari ukuran kualitas produk manakala pelanggan sulit mengevaluasi
produk yang kompleks.
Di dalam proses penetapan
harga jual suatu produk, perusahaan hendaknya mengikuti prosedur yang terdiri
dari enam langkah pokok, yaitu memilih sasaran harga, menentukan permintaan,
memperkirakan biaya, menganalisis pesaing, memilih metode harga dan memilih
harga akhir.
Memilih Sasaran Harga
Langkah pertama adalah memilih
sasaran harga, seperti misalnya bertahan hidup, maksimalisasi keuntungan jangka
pendek, volume penjualan, permintaan pasar, unggul dalam pangsa
pasar, persaingan, prestise atau status quo. Perusahaan bertujuan
bertahan hidup akan berusaha dengan menurunkan harga. Laba tidak begitu
dipentingkan, selama harga dapat menutupi biaya variabel dan sebagian biaya
tetap. Sasaran ini hanya untuk jangka pendek dan diharapkan dalam jangka
panjang perusahaan
Laba sekarang maksimum dilakukan
perusahaan dengan memperkirakan permintaan dan biaya yang dihubungkan dengan
alternatif harga dan memilih harga yang menghasilkan laba sekarang maksimum,
arus kas atau return on investment (ROI). Strategi ini dilakukan dengan
mengasumsikan bahwa permintaan dan fungsi biaya dapat diketahui, tetapi pada
kenyataannya sulit diperkirakan. Strategi ini mengabaikan kinerja jangka
panjang, mengabaikan efek dari variabel bauran pemasaran, reaksi pesaing dan
kendala hukum pada harga.
Sasaran berorientasi pada volume
penjualan dilakukan perusahaan dengan mengatur harga sedemikian rupa untuk
meningkatkan volume penjualan. Perusahaan mengasumsikan bahwa volume
penjualan yang lebih tinggi akan menghasilkan biaya per unit lebih rendah dan
laba jangka panjang lebih tinggi serta berasumsi bahwa pasar peka terhadap
harga.
Sasaran unggul dalam pangsa pasar
dilakukan dengan meningkatkan atau memelihara pangsa pasar tanpa mempertimbangkan
fluktuasi penjualan dalam industri. Sasaran unggul dalam pangsa pasar sering
digunakan perusahaan untuk produk yang mencapai tahap dewasa dalam siklus hidup
produk.
Sasaran permintaan pasar adalah
penetapan harga yang dihubungkan dengan harapan pelanggan dan situasi pembelian
yang khusus. Sasaran ini sering dikenal dengan ”beri harga dengan apa yang
pasar kehendaki”.
Sasaran persaingan merancang harga
untuk menandingi atau mengalahkan harga pesaing. Tujuannya untuk memelihara
persepsi nilai yang baik relatif terhadap pesaing. Tempo Scan menetapkan harga
Bodrex sedemikian rupa agar dapat berkompetisi dengan pesaing.
Sasaran prestis dilakukan dengan
merancang harga yang konsisten dengan sebuah produk yang mempunyai status yang
tinggi atau prestis. Harga ini dirancang dengan sedikit memperhatikan struktur
biaya perusahaan atau pesaing.
Sasaran status quo merupakan sasaran
yang menetapkan harga untuk memelihara harga yang ada dalam usaha
memepertahankan posisi relatif terhadap pesaing.
Menentukan Permintaan
Langkah kedua, perusahaan menentukan
permintaan yang akan memperlihatkan jumlah produk yang akan
dibeli di pasar dalam periode tertentu, pada berbagai tingkat
harga. Makin inelastis permintaan, makin mampu perusahaan
menaik-turunkan harganya. Menentukan permintaan dimulai dengan
menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga. Menurut Nagle faktor
yang membuat pembeli kurang peka tehadap harga antara lain produk bersifat
khusus, pembeli kurang sadar tehadap produk pengganti, pembeli tidak mudah
membandingkan dengan kualitas produk pengganti, yang dibelanjakan kecil
dibanding pendapatan totalnya, yang dibelanjakan kecil dibanding biaya total
produk akhirnya, sebagian biaya ditanggung pihak lain, produk digunakan bersama
dengan aktiva yang dibeli sebelumnya, produk dianggap memiliki kualitas,
prestis atau eksklusif dan pembeli tidak dapat menyimpan produk tersebut.
Setelah menentukan faktor-faktor
yang mempengaruhi kepekaan harga, perusahaan berusaha mengukur kurva permintaan
dengan berbagai metode. Metode pertama melibatkan analisis statistik atas data
harga masa lalu, jumlah terjual dan faktor lain untuk menentukan hubungannya.
Metode kedua adalah melakukan eksperimen harga dengan mengubah harga berbagai
produk yang dijual di toko diskon dan mengamati hasilnya. Metode ketiga adalah
meminta pembeli untuk menyatakan berapa banyak unit yang akan mereka beli pada
berbagai harga yang diusulkan.
Selanjutnya perusahaan perlu untuk
mengetahui elastisitas permintaan terhadap perubahan harga. Jika permintaan
hampir tidak berubah dengan adanya perubahan kecil terhadap harga, maka
permintaan itu disebut inelastis, tetapi jika permintaan itu berubah
banyak maka permintaan itu disebut elastis. Permintaan kurang elastis
bila terdapat hanya sedikit atau bahkan tidak ada barang pengganti atau
pesaing, pembeli tidak segera menyadari harga tinggi tersebut, pembeli lambat
dalam mengubah kebiasaan membelinya dan mencari harga yang lebih rendah, dan
pembeli berpikir bahwa harga yang lebih tinggi itu pantas karena peningkatan
kualitas, inflasi secara normal dan lain sebagainya. Pertimbangan penurunan
harga dilakukan jika permintaan tersebut elastis.
Memperkirakan Biaya
Langkah ketiga ialah perusahaan
memperkirakan perilaku biaya pada berbagai tingkat produksi dan perilaku biaya
dalam kurva pengalamannya. Biaya perusahaa ada dua jenis, yaitu biaya
tetap dan biaya variabel. Biaya tetap (overhead) adalah biaya yang tidak
bervariasi dengan produksi atau penjualan, misalnya gaji karyawan. Biaya variabel
merupakan biaya yang bervariasi langsung dengan tingkat produksi, misalnya
biaya bahan untuk produksi. Biaya total merupakan biaya tetap dan biaya
variabel untuk tingkat produksi. Sedangkan biaya rata-rata adalah biaya per
unit untuk tingkat produksi atau total biaya dibagi produksi.
Perusahaan harus mengetahui
bagaimana biaya bervariasi dengan berbagai tingkat produksi agar dapat
menetapkan harga yang tepat. Perusahaan Jepang sering menggunakan metode yang
disebut penetapan biaya sasaran (target costing) yaitu biaya ditentukan
dari hasil riset pasar untuk menentukan fungsi-fungsi yang diinginkan dari
produk, kemudian menentukan harga jual produk tersebut sesuai dengan daya
tariknya dan harga pesaingnya. Selanjutnya mengurangi margin laba dari harga
ini, sehingga diperoleh biaya sasaran yang harus dicapai dan menelitia biaya
setiap unsur, misalnya desain, rekayasa, produksi, penjualan dan lainnya serta
memecahkan dalam unsur yang lebih kecil, merekayasa ulang komponen,
menghilangkan beberapa fungsi, menurunkan biaya pemasok agar proyeksi biaya
akhir sesuai dengan kisaran biaya sasaran.
Menganalisis Biaya, Harga dan
Penawaran Pesaing
Perusahaan dapat menggunakan
analisis biaya, permintaan pasar, biaya pesaing, harga pesaing dan kemungkinan
reaksi pesaing sebagai dasar penetapan harga. Perusahaan juga perlu untuk
membandingkan biayanya dengan biaya pesaing, apakah biaya produksinya lebih
rendah atau lebih tinggi dan juga harga dan kualitas penawaran pesaing. Dengan
mengetahui biaya, harga dan kualitas pesaing, perusahaan dapat menggunakan
sebagai titik orientasi untuk menetapkan harga.
Perusahaan harus menetapkan harga
dekat dengan harga pesaing, jika pesaing itu merupakan pesaing utama. Jika
kualitas kualitas penawaran lebih tinggi dari pesaing, maka perusahaan dapat
menetapkan harga lebih tinggi dari harga pesaing, tetapi jika kualitas
penawaran lebih rendah dari pesaing, maka perusahaan hendaknya menetapkan harga
lebih rendah dari pesaing. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan pesaing
mengubah harganya sebagai tanggapan terhadap harga yang ditetapkan perusahaan.
Memilih Metode Penetapan Harga
Kelima, perusahaan memilih
salah satu dari berbagai metode harga yaitu: markup pricing,
target-return pricing, competitive pricing, demand pricing,
preceived value pricing dan value pricing.
Penetapan harga markup (markup
pricing) merupakan metode dengan menambahkan markup standar pada biaya
produksi. Penetapan harga markup populer karena menetapkan biaya dan mengaitkan
dengan harga lebih mudah, harga menjadi serupa jika industri menetapkan harga
dengan metode ini dan merupakan penetapan harga yang lebih adil. Namun demikian
metode ini tidak akan menghasilkan penetapan harga yang optimal, karena
mengabaikan permintaan.
Penetapan harga berdasarkan target (target-return
pricing) merupakan metode penetapan harga yang menghasilkan tingkat
pengembalian atas investasi (ROI) yang diinginkan.
Penetapan harga berdasarkan
persaingan (competitive pricing) merupakan metode penetapan harga dengan
menggunakan harga pesaing, apakah di bawah, sama atau di atas harga pesaing.
XL menentukan harga berdasarkan persaingan dengan iklan “TARIF TERMDalam
menetapkan harga jual suatu produk ada berbagai metode yang dapat dipakai oleh
manajemen dalam suatu perusahaan. Dalam hal ini Cecep Hidayat mengemukakan
bahwa: ada 3 (tiga) Metode dalam penetapan harga jual yang dilaksanakan oleh
suatu perusahaan, yaitu:
1. Cost Oriented Pricing
1. Cost Oriented Pricing
2. Deman Oriented Pricing
3. Competition Oriented
Pricing
Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Cost Oriented Pricing
Suatu cara penetapan harga jual yang dinyatakan pada biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang dan menambahkan suatu prosentase tertentu sebagai labanya. Metode ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:
a. Metode Penetapan Harga Biaya-Plus(Cost Plus Pricing method)
Hubungan biaya dengan harga tidak selalu sama. Pengukuran biaya sangat penting apabila pembeli telah setuju untuk membayar harga berdasarkan biaya. Biaya produk sering dijadikan patokan terendah untuk harga jual, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sudah barang tentu tanpa memperhatikan konsep biaya yang digunakan, perusahaan harus selalu menekan biaya sekecil mungkin dengan menerapkan metode produksi dan pemasaran yang paling efisien. Berikut adalah beberapa metode penetapan harga berdasarkan biaya-plus yang dikemukakan oleh Gayle Rayburn dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Biaya” yaitu:
Penetapan Harga berdasarkan biaya variable (variable cost pricing), menekankan margin kontribusi dengan membedakan perilaku biaya variable dan tetap. Salah satu bentuk dari penetapan harga berdasarkan biaya variable adalah dengan menambahkan markup terhadap biaya variable hingga mencapai biaya penuh. Para pendukung penetapan harga berdasarkan biaya variable berpendapat bahwa metode ini memungkinkan manager untuk menentukan harga baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang karena hal itu terkait dengan pengaruh perbedaan harga terhadap total biaya tetap. Akan tetapi ada bahayanya bila terlalu memusatkan perhatian kepada biaya variable dan marjin kontribusi.Misalkan perusahaan mempunyai dua produk, yaitu lotion dan sabun dengan laporan operasi bulanan sebagai berikut:
————————————————- lotion———–sabun
Penjualan (masing-masing 1.000 Unit) $ 23.000—-$ 16.000
Dikurangi beban variabel —————–$ 15.000—-$ 8.000
Marjin Kontribusi————————–$ 8.000——$ 8.000
Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Cost Oriented Pricing
Suatu cara penetapan harga jual yang dinyatakan pada biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang dan menambahkan suatu prosentase tertentu sebagai labanya. Metode ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:
a. Metode Penetapan Harga Biaya-Plus(Cost Plus Pricing method)
Hubungan biaya dengan harga tidak selalu sama. Pengukuran biaya sangat penting apabila pembeli telah setuju untuk membayar harga berdasarkan biaya. Biaya produk sering dijadikan patokan terendah untuk harga jual, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sudah barang tentu tanpa memperhatikan konsep biaya yang digunakan, perusahaan harus selalu menekan biaya sekecil mungkin dengan menerapkan metode produksi dan pemasaran yang paling efisien. Berikut adalah beberapa metode penetapan harga berdasarkan biaya-plus yang dikemukakan oleh Gayle Rayburn dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Biaya” yaitu:
Penetapan Harga berdasarkan biaya variable (variable cost pricing), menekankan margin kontribusi dengan membedakan perilaku biaya variable dan tetap. Salah satu bentuk dari penetapan harga berdasarkan biaya variable adalah dengan menambahkan markup terhadap biaya variable hingga mencapai biaya penuh. Para pendukung penetapan harga berdasarkan biaya variable berpendapat bahwa metode ini memungkinkan manager untuk menentukan harga baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang karena hal itu terkait dengan pengaruh perbedaan harga terhadap total biaya tetap. Akan tetapi ada bahayanya bila terlalu memusatkan perhatian kepada biaya variable dan marjin kontribusi.Misalkan perusahaan mempunyai dua produk, yaitu lotion dan sabun dengan laporan operasi bulanan sebagai berikut:
————————————————- lotion———–sabun
Penjualan (masing-masing 1.000 Unit) $ 23.000—-$ 16.000
Dikurangi beban variabel —————–$ 15.000—-$ 8.000
Marjin Kontribusi————————–$ 8.000——$ 8.000
Karena Lotion dan sabun mempunyai
marjin kontribusi yang sama, mungkin ada kecenderungan untuk memperlakukan
keduanya dengan cara yang sama dalam penetapan harga. Akan tetapi analisis yang
hanya didasarkan atas marjin kontribusi dapat mengarah kepada kesimpulan yang
salah. Jika produk ini memerlukan upaya dan biaya pemasaran, analisis
eksekutif, dan penelitian serta rekayasa yang berbeda-beda, maka manajemen
harus memperhitungkan hal-hal tersebut dalam menentukan biaya.
Penetapan
Harga berdasarkan biaya diferensial
(differential cost pricing), juga disebut penetapan harga berdasarkan
biaya marjinal (marginal Cost Pricing) memusatkan perhatian pada biaya tetap
dan laba yang diperoleh dari pesanan tambahan. Metode ini menambahkan MarkUp
kepada biaya diferensial. Disamping itu biaya diferensial dari suatu pesanan
sama dengan kenaikan total biaya yang disebabkan oleh produksi unit-unit
tambahan. Penetapan harga ini memperhitungkan baik biaya tetap maupun variabel
sebagai biaya diferensial sebelum ditambahkan dengan markup dan cara ini cocok
untuk situasi tertentu, khususnya yang bersifat jangka pendek. Untuk
mengilustrasikan penetapan harga berdasarkan biaya diferensial
cai.elearning.gunadarma.ac.id/webbasedmedia
Langganan:
Postingan (Atom)